Jumat, 09 Oktober 2015

Disadari & Disabari

Hari ini, aku dikagetkan dengan setumpuk kartu undangan pernikahan di meja kantor. Aku kira salah satu rekan kerjaku yang akan segera menikah. Ternyata bukan. Sekejap aku tak mempedulikan, tapi beberapa menit kemudian aku penasaran juga ingin membukanya. Aih, ternyata ada juga undangan yang diperuntukkan padaku.
Hmm... aku mengingat-ingat siapa nama yang mengundang ini, dan rupanya ya, aku mengenal ibu ini, yang akan menikahkan anaknya. Lalu aku buka. Jleb, sontak hatiku berdesir hebat membaca nama calon pengantin laki-laki yang tertulis di surat undangan itu. Benarkah dia? Hatiku meyakinkan. Lalu kubaca nama kedua orang tuanya yang tertulis di lembar belakang surat itu. Tidak salah lagi, itu memang dia.
Dia yang pernah aku kenal walau sekejap menambah rentetan kisah hidupku. Ada sesak, meski lama telah aku coba melepasnya. Ingin menangis, meskipun tak pantas hal ini ditangisi. Pikiranku mulai hilang fokus. Presentasiku buyar dengan pikiran yang semrawut. Aaarrggghhh.... kenapa harus jadi berantakan?? Apa urusanku, kisahnya denganku sudah lama berakhir. Well, seperti emosi dan gejolak perasaan ini belum mampu sepenuhnya aku kendalikan. Disini aku menyadari betapa lemahnya diri.
Pikiran jahat mulai merasuki ruang prasangkaku. Aku yang tak sempurna, aku yang hanya berasal dari keluarga sederhana, dan aku sarjana yang bukan lulusan universitas terkemuka, serta berbagai prasangka kecut tentang diri mulai menyerbu ruang kosong pikiranku. Bahwa, dia memang pantas mendapatkan wanita yang lebih segalanya dariku. Berasal dari keluarga terpandang, lulusan perguruan tinggi ternama, dan fisik yang sempurna, serta usia yang jauh lebih muda. Amboi.
Astghfirullah, Robbii...
Apa yang terjadi dengan diri ini?
Adakah aku lupa atas segala kehendak-Mu?
Sungguh tiadalah skenario ini melainkan Engkau jadikan indah di setiap alur dan settingnya.
Kecewa, sakit, dan menyesakkan, mungkin adalah gejolak emosi sesaat.
Lalu, saat kusadari takdir-Mu begitu indah menampakkan kuasa-Mu
Apatah daya manusia yang lemah ini.
Akan ada waktu dimana Engkau tampakkan kuasa-Mu tentang sebuah takdir. Takdir cinta dalam kisah pasangan anak manusia, yang begitu indah dan istimewa. Seorang lelaki yang Kau takdirkan sebagai pasangan hidupku kelak, yang baik akhlaknya, yang tulus hatinya, yang penyayang, serta dapat menuntunku lebih dan lebih dekat lagi dengan-Mu. Aamiin....



Tidak ada komentar:

Posting Komentar