Ternyata, Allah selalu punya cara agar aku terus belajar dan belajar. Belajar tentang kehidupan, perasaan, dan arti kesyukuran dari mendengarkan dan kemudian memahami. Ya, dari mendengarkan cerita dan curahan hati orang-orang di sekelilingku. Dari sana aku belajar dan mencoba memahami bagaimana bersikap bijak dan mengambil langkah yang tepat atas segala persoalan yang tengah mereka hadapi. Namun itu semua bukan berarti aku terlepas dari persoalan hidup pribadi, karena sudah menjadi keniscayaan bahwa dalam diri seseorang pasti mempunyai persoalan hidup. Hanya saja Allah menyajikannya dengan cara yang berbeda melalui persoalan-persoalan orang lain dimana aku pun mungkin saja tengah mengalaminya. Jadi, di saat aku mencoba mencari solusi atau minimal memberi nasehat, saran, dan motivasi, seolah itu adalah untuk diriku sendiri.
Allah menghadirkan orang-orang pada setiap fase dimana aku mulai kehilangan. Kehilangan kawan dekat, dan kehilangan waktu yang mungkin aku sia-siakan. Mereka adalah para wanita istimewa, yang lembut hatinya, yang cantik hatinya dan menawan dzahirnya. Aku masih teringat bagaimana mereka satu persatu datang menjadi kawan yang mewarnai hari-hariku, terutama mewarnai pengetahuanku dari pelajaran yang dapat aku ambil dari persoalan-persoalan hidup mereka. Lalu, mereka pun satu per satu pergi, dan datang silih berganti, seolah Allah tak ingin proses belajarku terputus.
Ada banyak persoalan hidup yang aku pelajari dari mendengarkan segala cerita dan curahan hati mereka. Tentang cinta, tentang kerinduan, tentang semangat diri yang hampir hilang, persoalan tentang rumah tangga, dan yang paling sering aku dengar adalah persoalan tentang sebuah jalinan antara wanita dan laki-laki.
Mendengarkan membutuhkan kesabaran dan keikhlasan meluangkan waktu. Bukan untuk sok tahu persoalan hidup orang lain, tapi untuk sekedar menjadi tempat curahan hati. Karena sepintar-pintarnya wanita memendam sebuah persoalan dan perasaan, ia membutuhkan tempat atau orang yang dia percayai bisa menjadi tempat berbagi cerita suka dan dukanya. Dan aku, sebenarnya tak ingin tahu tentang persoalan hidup mereka, karena pada akhirnya mereka sendirilah yang akan menemukan jalan keluar dari persoalan hidupnya. Akan tetapi, sebagai wanita yang peka terhadap perasaan, disini aku tidak bisa menolak, saat mereka mempercayai-ku sebagai orang yang bisa membantu meringankan beban pikiran dan unek-unek yang perlu mereka curahkan.
Dan aku pun mencoba menjadi sahabat mereka, yang siap mendengarkan apa-apa yang ingin mereka curahkan. Meskipun, mungkin aku belum bisa bersikap sebijak mungkin dan sebaik mungkin terhadap mereka, tapi aku akan terus berusaha melakukan yang terbaik. Dan tentunya, hakikatnya bukanlah aku yang menjadi tempat terbaik dan sandaran yang tepat untuk segala persoalan hidup mereka, Dia-lah Allah SWT yang terbaik di seluruh dunia dan akhirat ini, yang wajib kita jadikan sandaran hidup. Karena mungkin aku hanyalah secuil bagian dari apa yang Allah hadirkan untuk hidup mereka.
Aku menyadari betul, mungkin inilah cara Allah memberiku pelajaran hidup, karena tanpa-Nya aku tak mampu berdiri tegak menghadapi kehidupan ini, tanpa-Nya aku tak mampu percaya diri atas kekurangan dzahir yang aku miliki, dan tanpa-Nya aku tak kuasa menerima segala ujian ini. Inilah aku dengan segala keterbatasan dalam bathin dan lahirku yang mencoba menjadi insan yang bermanfaat untuk sesama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar